Jumat, 02 Januari 2015

Lanskap TN Way Kambas dan ancamannya


Umum

Dalam perpektif hidro-morfologis, posisi TNWK berada pada “low land” atau dataran yang paling rendah apabila dibandingkan dengan sekitarnya. Posisi geografis tersebut menimbulkan konsekwensi, yaitu   menjadi tempat melintasnya dan juga tempat paling terakhir bagi bahan atau material baik fisik, kimia dan biologis yang berasal dari wilayah diatasnya sebelum akhirnya di alirkan habis mengalir ke laut Jawa. 
Sistem hirologis utama kawasan ini mempunyai aliran sungai yang dapat dikelompokkan menjadi tiga sungai utama yaitu Way Pegadungan, Way Kambas dan Way Penet (BTNWK, 2010). TNWK merupakan habitat bagi banyak satwa liar yang mempunyai peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem mulai dari mamalia, aves, reptilia, primata dan amphibi. Sebagian satwa liar tersebut keberadaanya cukup langka seperti gajah Sumatera, harimau Sumatera, badak Sumatera, tapir dan beruang madu. 
Peran penting air
Salah satu unsur penting agar kelangsungan proses metabolismenya tubuh atau apapun yang memerlukan air sebagai bagian dari kehidupannya dapat berjalan dengan baik, diperlukan air dengan kualitas yang dapat ditoleransi oleh makhluk tersebut. Sungai sebagai sarana paling utama dalam mentransportasikan dari satu tempat ke tempat yang lain yang lebih rendah
Air mempunyai peran sentral dalam kehidupan makhluk hidup baik manusia, satwa maupun tumbuhan (EPA, 2005). Air yang dibutuhkan oleh makhluk hidup memiliki standar kualitas yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Setiap penggunaan tertentu akan memiliki persyaratan karakteristik air tertentu untuk fisik, kimia atau biologis, misalnya batasan pada konsentrasi zat-zat beracun untuk penggunaan air minum, atau pembatasan pada suhu dan kisaran pH air untuk mendukung komunitas invertebrata (Meybeck, 1996). Berbagai aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang berasal dari kegiatan industri, rumah tangga, dan pertanian akan menghasilkan limbah yang memberi sumbangan pada penurunan kualitas air sungai (Suriawiria, 2003). 
Potensi ancaman ekologis
Tidak bisa dipungkiri bahwa penduduk daerah penyangga semakin besar, demikian juga bentuk kegiatan pemanfaatan lahan juga semakin beragam dan intensif. Hulu sungai Way Kambas yang  aliran sungainya melintasi kawasan taman nasional berasal dari luar kawasan hutan dengan penggunaan lahan sebagai kawasan budidaya, seperti perkebunan, peternakan, pemukiman penduduk, industri dan pemukiman penduduk. Aktivitas tersebut memberikan pengaruh bagi kawasan karena penggunaan bahan yang dapat mencemari lingkungan air. Penggunaan pupuk an-organik yang mengandung amonia dan pospat dan bahan lainnya yang dapat mencemari lingkungan jika penggunaan berlebih, penggunaan pestisida yang berlebihan  dapat menyebabkan pencemaran perairan sungai yang dapat membahayakan satwa yang memanfaatkan air sungai tersebut. Limbah industri pabrik tapioka juga mengandung bahan yang dapat mencemari lingkungan perairan. Limbah peternakan juga dapat mencemari lingkungan. 
Dengan semakin intensifnya pemanfaatan kawasan budidaya yang cenderung mengabaikan prinsip-prinsip keselamatan terhadap lingkungan semakin meningkat. Pada umumnya, dalam jangka pendek dampak terhadap satwa dari pencemaran tidak langsung diketahui seperti halnya perburuan liar atau kebakaran hutan, akibat pencemaran biasanya bersifat jangka panjang, dengan demikian secara ekologis kawasan TNWK secara nyata menghadapi ancaman pencemaran lingkungan.

Upaya Meminimalisir dampak 
Melihat potensi ancaman ekologis karena aktivitas manusia yang berada dari luar kawasan hutan, beberapa saran yang perlu dilakukan sebagai berikut: 
  1. Pemantauan kualitas air sungai Way Kambas. Pemangku wilayah secara periodik harus melakukan pemantauan terhadap kualitas aliran air sungai yang ada di Taman Nasional Way Kambas. Bahwa air sungai yang masuk kedalam kawasan seharusnya dipastikan aman dari kandungan bahan atau zat yang membahayakan satwa atau makhluk hidup sehingga dapat dimanfaatkan secara langsung. Pemantauan ini dilakukan untuk mengantisipasi lebih dini adanya ancaman pencemaran lingkungan. Pemantauan secara periodik minimal 12 kali dalam setahun. Selain itu, agar pemantauan dapat dilaksanakan secara akurat cepat diperlukan peralatan lapangan yang memadai seperti pengukur suhu, pH, salinitas, DO, BOD, COD dan lain-lain
  2. Melakukan penyuluhan terhadap masyarakat sekitar dan kelompok pengguna kawasan budidaya yang lain.Sumber pencemaran yang paling utama sungai Way Kambas berasal dari aktivitas manusia. Resiko dan ancaman pencemaran perairan sungai Way Kambas semakin tinggi seiring dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk dan pemanfaatan lahan secara intensif. Dengan demikian sangat penting untuk secara terus-menerus memberikan informasi kepada masyarakat sekitar perihal praktek-praktek penggunaan lahan yang ramah lingkungan, sosialisasi peraturan perundang-undangan dan lain-lain
  3. Bergabungnya kementerian kehutanan dan lingkungan hidup dalam satu atap otoritas telah membuat upaya pembangunan lingkungan hidup dan kehutanan akan semakin terintegrasi. Dengan demikian penanganan gangguan lingkungan yang berpotensi mengganggu ekosistem hutan akan lebih mudah ditangani. Oleh karena itu, otoritas ini harus lebih bisa menekan dan mendorong pabrik yang berdiri di sekitar sungai yang alirannya memasuki kawasan hutan untuk membangun instalasi pengolahan air limbah yang representatif. Beberapa informasi menyebutkan bahwa  
  4. Melakukan kaji ulang terhadap lanskap taman nasional way kambas. Dalam jangka panjang tingkat gangguan yang dihadapi oleh ekosistem kawasan dipastikan semakin berat. Oleh karenanya diperlukan upaya untuk mengkaji ulang lanskap kawasan. Namun dengan tantangan yang dihadapi semakin berat, maka upaya lain secara bersamaan harus dilakukan seperti penyadartahuan masyarakat tentang pembangunan yang ramah lingkungan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

EKOWISATA DI TNWK "SEBUAH HARAPAN"

EKOWISATA DI TNWK "SEBUAH HARAPAN"

Destinasi Way Kambas Yang Mendunia “sebuah harapan pengelolaan ekowisata Profesional” Pendahuluan TN Way Kamba...